Archive for August, 2007

Cermin Seekor Burung

Wednesday, August 29th, 2007

(diambil dari milis sebelah…)

KETIKA musim kemarau baru saja mulai. Seekor burung pipit mulai merasakan tubuhnya kepanasan, lalu mengumpat pada lingkungan yang dituduhnya tidak bersahabat. Dia lalu memutuskan untuk meninggalkan tempat yang sejak dahulu menjadi habitatnya, terbang jauh ke utara, mencari udara yang selalu dingin dan sejuk.

Benar, pelan pelan dia merasakan kesejukan udara, makin ke utara makin sejuk, dia semakin bersemangat memacu terbangnya lebih ke utara lagi.

Terbawa oleh nafsu, dia tak merasakan sayapnya yang mulai tertempel salju, makin lama makin tebal, dan akhirnya dia jatuh ke tanah karena tubuhnya terbungkus salju.

Sampai ke tanah, salju yang menempel di sayapnya justru bertambah tebal. Si burung pipit tak mampu berbuat apa apa, menyangka bahwa riwayatnya telah tamat.

Dia merintih menyesali nasibnya. Mendengar suara rintihan, seekor kerbau yang kebetulan lewat menghampirinya. Namun si burung kecewa mengapa yang datang hanya seekor kerbau. Dia menghardik si kerbau agar menjauh dan mengatakan bahwa makhluk yang tolol tak mungkin mampu berbuat sesuatu untuk menolongnya.

Si kerbau tidak banyak bicara, dia hanya berdiri, kemudian kencing tepat di atas burung tersebut. Si burung pipit semakin marah dan memaki maki si kerbau. Lagi-lagi si kerbau tidak bicara, dia maju satu langkah lagi, dan mengeluarkan kotoran ke atas tubuh si burung. Seketika itu si burung tidak dapat bicara karena tertimbun kotoran kerbau. Si Burung mengira lagi bahwa mati tak bisa bernapas.

Namun perlahan lahan, dia merasakan kehangatan, salju yang membeku pada bulunya pelan-pelan meleleh oleh hangatnya tahi kerbau, dia dapat bernapas lega dan melihat kembali langit yang cerah. Si burung pipit berteriak kegirangan, bernyanyi keras sepuas puasnya.

Mendengar ada suara burung bernyanyi, seekor anak kucing menghampiri sumber suara, mengulurkan tangannya, mengais tubuh si burung dan kemudian menimang nimang, menjilati, mengelus dan membersihkan sisa-sisa salju yang masih menempel pada bulu si burung. Begitu bulunya bersih, si burung bernyanyi dan menari kegirangan, dia mengira telah mendapatkan teman yang ramah dan baik hati.

Namun apa yang terjadi kemudian, seketika itu juga dunia terasa gelap gulita bagi si burung, dan tamatlah riwayat si burung pipit ditelan oleh si kucing.

Hmm… tak sulit untuk menarik garis terang dari kisah ini, sesuatu yang acap terjadi dalam kehidupan kita: halaman tetangga tampak selalu lebih hijau; penampilan acap menjadi ukuran; yang buruk acap dianggap bencana dan tak melihat hikmah yang bermain di sebaliknya; dan merasa bangga dengan nikmat yang sekejap. Burung pipit itu adalah cermin yang memantulkan wajah kita…

Killer Statement

Tuesday, August 28th, 2007

(Sumber: Killer Statement oleh Anthony Dio
Martin)

Ada
sebuah istilah komunikasi negatif dalam Kecerdasan Emosional yang disebut killer
statement. Apa itu killer statement? Gampangnya, killer statement itu adalah
segala bentuk pernyataan kita yang kita keluarkan, sadar maupun tidak, tetapi
melukai dan mampu merusak mental maupun semangat orang lain.

Jenis-jenis
killer statement ini, tanpa sadar kita dengar setiap hari, atau barangkali tanpa
sadar kita keluarkan dengan maksud bercanda, memotivasi, tapi justru merusak.
Nah, kalimat-kalimat perusak jiwa yang menghasilkan perasaan yang negatif pada
diri seseorang itulah yang seringkali kita sebut killer statement.

Menariknya, sejarah dunia komik pun pernah mencatat akibat buruk dari
killer statement yang pernah diterima oleh dua anak bernama Jerry Siegel dan Joe
Shuster. Kisahnya begini. Di masa depresi yang melanda Amerika pada 1933, Jeery
Siegel mempunyai ide menciptakan seorang tokoh pahlawan anak-anak yang mempunyai
kemampuan luar biasa.

Tenaganya lebih kuat dari besi, bisa terbang dan
asalnya dari planet lain. Maka, bersama dengan temannya yakni Joe Shuster yang
pandai melukis, diciptakanlah untuk pertama kalinya gambaran manusia baja
tersebut. Tetapi gambaran komik manusia super itu tidaklah begitu menarik.
Kecaman dan kritikan diterima.

Selama enam tahun berturut-turut komiknya
pun ditolak sana-sini. Hingga akhirnya, puncak kehancuran mental Siegel dan
Shuster terjadi saat mereka mendengar ada editor dari Detective Comics yang
membutuhkan komik strips. Lantas mereka pun mencoba menjual kepada mereka.

Tapi, saat membuka-buka dan menlihat gambaran komik mereka, para editor
pun tertawa dan berkata, "Wah, nggak akan ada yang percaya dengan ide komik
seperti ini. Gambarnya murahan dan tak mungkin laku dijual". Maka, karena sudah
terlalu frustrasi dengan penolakan dan kalimat yang menghancurkan itu, Shuster
dan Siegel akhirnya sepakat menjual komik serta segala hak ciptanya kepada
Detective Comics hanya senilai US$130.

Perhatikan baik-baik, hanya
seharga US$130 ! Tapi, itulah kesalahan terbesar Siegel dan Shuster akibat
terlalu mendengarkan killer statement yang diterimnya. Karena, beberapa saat
setelah komiknya dibeli, karakter komiknya ternyata menjadi pujaan. Anda pasti
bisa menebak. Itulah tokoh Superman, manusia Krypton dengan kemampuan terbang,
penglihatan super serta kekuatan fisik yang luar biasa.

Komik Superman
menjadi begitu laris, hingga difilmkan, karakternya menjadi tokoh idola
anak-anak. Sementara Shuster dan Siegel, penciptanya yang pertama, hanya bisa
gigit jari. Tokoh Superman menjadi populer dan meraup keuntungan miliaran dolar
AS. Tapi tokoh penciptanya hanya mendapat US$130, bahkan hidup dalam utang dan
kemiskinan.

Untungnya, pada 1975 setelah mendapatkan tekanan
bertubi-tubi dari publik yang menganggap Detective Comics tidak
berperikemanusiaan dengan membiarkan pencipta Superman hidup dalam miskin,
akhirnya Detective Comics sepakat memberikan jaminan finansial. Tetapi, kalau
kita melihat kembali, itulah harga dari sebuah killer statement yang telah
menghancurkan karir dan kehidupan dua orang bocah bernama Shuster dan Siegel.

Pembaca, kisah ini kiranya membuat kita sadar akan bahaya dari killer
statement dalam hubungan interpersonal kita. Memang, kadang killer statement ini
diucapkan tidak dengan intensi yang negatif, tapi dampaknya, sungguh merusak!
Namun, bisa juga killer statement ini diucapkan dengan maksud khusus untuk
menjatuhkan mental orang yang mendengarnya.

Tips penting

Untuk itu, ada beberapa tip penting bagi kita. Pertama, hati-hati dengan
killer statement yang mungkin kita ucapkan baik kepada anak kita, pasangan hidup
kita, rekan kerja maupun bawahan kita. Killer statement ini menunjukkan bahwa
kalimat yang diucapkan tanpa pertimbangan, bisa membunuh potensi, kemampuan
maupun karakter baik seseorang.

Karena itu, kalaupun Anda sedang stress,
sedang tidak dalam kondisi mood untuk bicara, merasa tidak puas dengan hasilnya,
ataupun merasa tidak suka dengan apa yang Anda saksikan, usahakan untuk
menghindari menggunakan kalimat yang bernada menghancurkan atau mencela
.

Kedua, kita sendiri sebagai orang yang akan dan biasa menerima killer
statement dari orang-orang di sekitar kita, lebih baik kita siapkan anti virus
bagi kita sendiri
. Anti virus ini berisi kalimat lain yang kita ucapkan pada
diri kita sendiri, meskipun orang lain sudah mengatakan killer statement itu
kepada kita.

Dalam workshop Kecerdasan Emosional yang kami lakukan,
salah satu latihan yang kami berikan adalah dengan menggunakan kalimat penguatan
positif yang cepat menetralkan meskipun orang lain telah mengatakan hal yang
buruk kepada Anda.

Menariknya, juga di salah satu acara kontes menyanyi,
ada seorang penyanyi kodang yang sudah tua, tapi diundang menjadi tamu untuk
juri. Saat itu ada seorang penyanyi yang mendapat penilaian buruk dan akhirnya
tersingkir. Saat sebelum mundur, si penyanyi tua ini memberikan nasihat, "Jangan
pedulikan hasil penilaian ini buatmu. Yang penting adalah kuatkanlah dirimu
terus. Sayapun tidak pernah menjuarai kontes menyanyi, toh dengan kegigihan,
saya bisa menjadi seorang penyanyi. Teruslah berlatih dan buktikan dirimu bisa
berhasil". Wow, mata saya berkaca-kaca mendengar motivasi dari sang artis dan
bintang penyanyi tua ini.

Sungguh suatu kata-kata penguatan yang luar
biasa. Andapun harus mengatakan hal yang sama kepada diri Anda, saat Anda
diberikan kata-kata negatif ataupun killer statement. Ingatlah pembaca, jangan
sampai potensi dan kemampuan Anda dirusak oleh kata-kata dari kalimat orang yang
tidak bertanggung jawab. Merekalah yang sebenarnya punya masalah dengan diri
mereka. Jangan biarkan mereka merusak diri Anda. Jangan biarkan mereka mencuri
mimpi Anda.

Totto-Chan : Gadis Cilik di Jendela

Friday, August 10th, 2007

Tottochankecil_3Resume:

Ibu Guru mengganggap Totto-chan nakal, padahal gadis cilik itu hanya
punya rasa ingin tahu yang besar. Itulah sebabnya ia gemar berdiri di
depan jendela selama pelajaran berlangsung. Karena para guru sudah
tidak tahan lagi, akhirnya Totto-chan dikeluarkan dari sekolah.

Mama pun mendaftarkan Totto-chan ke Tomoe Gakuen. Totto-chan girang
sekali, di sekolah itu para murid belajar di gerbong kereta yang
dijadikan kelas. Ia bisa belajar sambil menikmati pemandangan di luar
gerbong dan membayangkan sedang melakukan perjalanan. Mengasyikkan
sekali, kan?

Di Tomoe Gakuen, para murid juga boleh mengubah urutan pelajaran
sesuai keinginan mereka. Ada yang memulai hari dengan belajar isika,
ada yang mendahulukan menggambar, ada yang ingin belajar bahasa dulu,
pokoknya sesuka mereka. Karena sekolah itu begitu unik, Totto-chan pun
merasa kerasan.

Walaupun belum menyadarinya, Totto-chan tidak hanya belajar fisika,
berhitung, musik, bahasa, dan lain-lain di sana. Ia juga mendapatkan
banyak pelajaran berharga tentang persahabatan, rasa hormat dan
menghargai orang lain, serta kebebasan menjadi diri sendiri. [diambil
dari cover belakang buku]

Review:
Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela merupakan sebuah novel non fiksi
karya Tetsuko Kuroyanagi. Diterbitkan pertama kali di Jepang pada tahun
1981 oleh Kodansha International, Ltd. Di Indonesia, buku ini
diterbitkan pertama kali tahun 2003 oleh Gramedia Pustaka Utama.

Tetsuko menceritakan pengalaman hidupnya saat ia masih bersekolah
[SD] dengan sangat menarik. Bukan cara berceritanya yang manarik, tapi
cerita hidupnya itu sendiri.

Cerita Totto-chan yang sangat ingin tahu [lebih dari anak-anak
seumurnya] ditambah dengan cara pendidikan ‘unik’ yang diterapkan Tomoe
Gakuen merupakan sebuah pelajaran berharga yang sebenarnya bisa dipetik
oleh para guru di Indonesia, atau bahkan diadopsi sebagai cara
pendidikan di Indonesia.

Saya pribadi merasa sangat salut kepada Sasuko Kobayashi [1893 -
1963], sang Kepala Sekolah Tomoe yang berhasil menciptakan [dan
menerapkan] cara pendidikan yang bisa mengangkat bakat dan minat setiap
murid asuhannya dengan tanpa mengesampingkan pendikan moral dan sopan
santun. Dan dari yang saya baca, sebagian besar teman-teman Totto-chan
menjadi orang yang berhasil.

Pertanyaannya adalah, apakah bisa cara pendidikan seperti itu
diterapkan di Indonesia? Saya menjawab BISA! Namun dengan carut
marutnya sistem pendidikan yang diterapkan saat ini di Indonesia, saya
tidak yakin hal itu bisa direalisasikan. Diperlukan seorang Sosaku
Kobayashi Indonesia untuk menjadi Menteri Pendidikan, atau bahkan
Presiden Indonesia.

Yang jelas, kita tertinggal jauh dari Jepang [pasti]. Bayangkan
saja, Sosaku Kobayashi sudah menerapkan sistem ini di Tomoe sejak tahun
1937. Dibutuhkan energi yang besar dan dukungan dari banyak pihak untuk
menjadikannya berjalan di Indonesia.

Saya cuma bisa berdoa, mudah-mudahan lahir seorang Sosaku Kobayashi
di Indonesia, dengan catatan, orang itu lahir di lingkungan berada,
punya beking yang kuat, didukung seluruh partai politik di Indonesia,
ABRI, dan kalangan agamis. Soalnya sehebat apapun seseorang dan
gagasannya untuk memajukan Indonesia, tanpa didukung hal tersebut,
hampir mustahil bisa terlaksana.

Oh Indonesia, oh Indonesia!

[diambil dari blog sebelah :) ]