Alasan itu selalu bisa dibuat khan..?
http://blogerwinari anto.blogspot. com/search? q=Alasan+ itu+selalu+ bisa+dibuat% 2C+kan
Alasan itu selalu bisa dibuat,
kan?
kan?
Akan selalu saja ada alasan untuk melogiskan sebuah penolakan.
Akan
selalu saja ada alasan untuk melakukan sesuatu yang tidak baik.
Akan selalu
saja ada alasan, untuk sebuah kejahatan… jadi "seolah-olah" benar. Yah jadi
"seolah-olah" tepat.
Akan
selalu saja ada alasan untuk melakukan sesuatu yang tidak baik.
Akan selalu
saja ada alasan, untuk sebuah kejahatan… jadi "seolah-olah" benar. Yah jadi
"seolah-olah" tepat.
Kenapa kamu kok ga dateng ke meeting ini?
Duuuh sibuk, kurang enak
badan, kecapean, de el el…
Kamu ini nampaknya bener2 sibuk kerja sekali
ya?
Yah begitulah
Tapi kok masih sempet jalan2, chatting, ngobrol?!?
Duuuh sibuk, kurang enak
badan, kecapean, de el el…
Kamu ini nampaknya bener2 sibuk kerja sekali
ya?
Yah begitulah
Tapi kok masih sempet jalan2, chatting, ngobrol?!?
Contoh lain….
Kenapa kok kamu ga masukin orang ini dalam
teammu?
Dia ga punya pengalaman apa2, kita kan perlu orang yang memenuhi
kualifikasi dong.
Orang yang ini sangat capable kok, kenapa kamu ga
terima?
Yah qta kan mau berikan kesempatan pada orang2 baru.
Kenapa kok kamu ga masukin orang ini dalam
teammu?
Dia ga punya pengalaman apa2, kita kan perlu orang yang memenuhi
kualifikasi dong.
Orang yang ini sangat capable kok, kenapa kamu ga
terima?
Yah qta kan mau berikan kesempatan pada orang2 baru.
Kenapa kok kamu berbuat begitu "kejam" ke orang itu?
Ini demi kebaikan
dia kok. Supaya dia sadar akan kesalahannya. ..
Ini demi kebaikan
dia kok. Supaya dia sadar akan kesalahannya. ..
Kenapa kok kamu sering banget datang telat?
Bus macet, kesiangan banyak
kerjaan jadi begadang sampai pagi, dan beraneka alasan lainnya.
Bus macet, kesiangan banyak
kerjaan jadi begadang sampai pagi, dan beraneka alasan lainnya.
Sebuah alasan bisa saja logis dan bisa diterima akal sehat ketika sekali
dua kali alasan itu disampaikan. Setelah itu jika kesalahan serupa masih terjadi
berarti masalahnya bukan alasan. Masalah dah ada di tingkat karakter…
dua kali alasan itu disampaikan. Setelah itu jika kesalahan serupa masih terjadi
berarti masalahnya bukan alasan. Masalah dah ada di tingkat karakter…
Bahkan untuk hal2 yang jelas salah, mungkin aja kalo mau dirasionalisasi
dan dilogiskan bisa kok…
dan dilogiskan bisa kok…
Kenapa kok kamu mencuri barang orang? Itu kan dosa…
Dia terlalu kaya.
Saya melakukan ini demi pemerataan pendapatan dan keadilan sosial.
Dia terlalu kaya.
Saya melakukan ini demi pemerataan pendapatan dan keadilan sosial.
Kenapa kok kamu membunuh?
Saya tolong orang itu supaya cepat bertemu
dengan Tuhan-Nya.
Saya tolong orang itu supaya cepat bertemu
dengan Tuhan-Nya.
Kenapa kamu berpoligami?
Ini untuk mengetes kesetiaan dan kemurnian hati
pasangan saya.
Ini untuk mengetes kesetiaan dan kemurnian hati
pasangan saya.
dan lain-lain… dan lain2…
Semuanya relatif… Meski sesungguhnya untuk sesuatu yang salah tetap
haruslah salah adanya…
haruslah salah adanya…
Sikap yang tidak komit tetaplah tidak komit. Itu ada di masalah karakter…
Masalah ada di dalam diri orang, bukan di luar…
Masalah ada di dalam diri orang, bukan di luar…
Perkara menolak tetaplah menolak…
Betapapun kita mencoba
merasionalisasi segala sesuatu menjadi terasa logis. Mencari-cari alasan
sedemikian rupa sehingga kelihatan valid dan objektif. Tetap saja sisi
subjektivitas pastilah ada… Tidak mungkin dipungkiri, itu wajar dan itu normal
kok. Bukan untuk disembunyikan. .. tp faktor itu toh masih mungkin untuk
ditekan.
Betapapun kita mencoba
merasionalisasi segala sesuatu menjadi terasa logis. Mencari-cari alasan
sedemikian rupa sehingga kelihatan valid dan objektif. Tetap saja sisi
subjektivitas pastilah ada… Tidak mungkin dipungkiri, itu wajar dan itu normal
kok. Bukan untuk disembunyikan. .. tp faktor itu toh masih mungkin untuk
ditekan.
Ketika kamu berpikir bahwa kamu sudah cukup objektif dalam menilai orang,
yah biasanya saat itulah kamu sama sekali bersikap tidak objektif.
yah biasanya saat itulah kamu sama sekali bersikap tidak objektif.
Terkadang saya bertanya kenapa yah ngga banyak orang mau mengakui kelemahan
diri… dan berkata…
Ini salah saya, saya akan memperbaiki diri dari posisi
yang ada sekarang.. Saya keliru, maafkan saya. Yah memang jarang ada kata2
semacam itu yang diucapkan dengan tulus, bukan sekedar basa-basi untuk menarik
simpati.
diri… dan berkata…
Ini salah saya, saya akan memperbaiki diri dari posisi
yang ada sekarang.. Saya keliru, maafkan saya. Yah memang jarang ada kata2
semacam itu yang diucapkan dengan tulus, bukan sekedar basa-basi untuk menarik
simpati.
Kenapa sih ya manusia harus mencari alasan?
Yah, mungkin saja karena memang manusia itu tak pernah mau disalahkan.. .
Lagian, untuk setiap kesalahan… alasan itu selalu bisa dibuat, kan?? seperti
keadaan kepemimpinan dan masyarakat indonesia saat ini sering membuat alasan
untuk membenarkan yang salah… ayo kita mulai gerakan kembali ke hati nurani,
untuk diri sendiri, masyarakat, dan bangsa indonesia… .mari sukses
bersama…
Lagian, untuk setiap kesalahan… alasan itu selalu bisa dibuat, kan?? seperti
keadaan kepemimpinan dan masyarakat indonesia saat ini sering membuat alasan
untuk membenarkan yang salah… ayo kita mulai gerakan kembali ke hati nurani,
untuk diri sendiri, masyarakat, dan bangsa indonesia… .mari sukses
bersama…
"lebih baik mengakui kelemahan dan kesalahan untuk diperbaiki, daripada
menutupi yang akan membodohkan kita terus…."
menutupi yang akan membodohkan kita terus…."
" Ayo akuilah kelemahan kita untuk kebaikan kita, Beranilah berkata jujur
walau itu menyakitkan" .
walau itu menyakitkan" .
December 3rd, 2007 at 12:21 am
salam kawan..
sebuah tulisan yang sangat bagus dengan merasionalisasikan segala bentuk penolakan.
kembali pada inti penolakan itu sendiri merupakan sebuah ketidak sepahaman dengan apa yang orang lain lakukan.
tapi yang terpenting adalah bukan pada penolakan itu sendiri,tapi bagaimana kita bisa merasionalisasikan penolakan itu dengan analogi-analogi yang masuk akal dan tidak berkepentingan meskipun terkadang itu menyakitkan.